Cerita Ngentot – Merasakan Dan Menikmati Digangbang

39338 views

Cerita Ngentot – Merasakan Dan Menikmati Digangbang | “Yeeeeeah…” Seperti beberapa bulan yang lalu saat mendapatkan motor idaman, hari ini Bimo juga tidak sabar untuk segera memulai hari. Pagi pagi sekali Bimo sudah mandi dan berdandan rapi. “Pagi Pak… Buk…” Sapa-nya ramah sambil kemudian mencium tangan kedua orang tua-nya itu.

Cerita Ngentot - Merasakan Dan Menikmati Digangbang“Pagi…” Bu Sriati dan Pak Edi hanya bisa melongo heran karenanya. Sejak sebukan terakhir, ini kali pertama Bimo terlihat bersemangat lagi. “Mungkin Bimo ama Arimbi udah baikan.” Tebak batin mereka.

“Mo langsung berangkat Bim?” Tanya Bu Sriati. Niat-nya marah dan mendiamkan Bimo karena ulah mabok mabokan kemarin langsung menguap melihat Bimo bersemangat seperti itu. Sepertinya wajangan ala Pak Edi benar benar masuk ke hati bocah itu.

“Yoi Buk.” Sahut Bimo sambil kemudian menggeloyor menuju garasi.

“Nggak sarapan dulu?”

“Nggak usah.”

Cerita Ngentot – Merasakan Dan Menikmati Digangbang | Sesampainya di garasi Bimo langsung mendorong keluar motor sport kebanggan-nya. Motor yang sebulan ini sempat hiatus, hari ini akan mulai beraksi lagi. Nati akan ada Anita yang bakal nangkring cantik di boncengan menggantikan Arimbi. Iya… Boncengan itu sekarang menjadi hak Anita.

Whuuuuum…

Cerita Ngentot – Merasakan Dan Menikmati Digangbang | Di atas motor itu Bimo kembali menjadi pusat perhatian, kembali menjadi fantasi iri semua anak muda seusianya, kembali menjadi cowok idaman semua gadis. Deru mesin R6 yang menyalak gahar memaksa motor motor murah harus minggir memberikan jalan yang seluas luasnya untuk sang raja jalanan.

Bimo is back!

Cerita Ngentot – Merasakan Dan Menikmati Digangbang | Lima belas menit menyusuri jalanan kota yang sepi, Bimo akhirnya sampai di rumah Anita. Di balai bambu di teras rumah, Anita sudah menunggu dengan cantik. Senyum manisnya langsung terkembang menyambut Bimo sang ksatria berkuda besi Yamaha R6.

“Pagi Princess Anitaaa…” Sapa Bimo lebay sambil menyetandarkan motornya. “Raden Mas Haryo Bimo is coming.”

“Lebay ah.”

Bimo kemudian menyusul duduk di samping Anita. “Langsung jalan kita?”

“Bentar lagi ah… Masih kepagian juga kali.”

Perlahan Bimo melirik jam tangan yang melingkar cantik di lengan Anita. “Busyet!” Saking semangatnya Bimo sampai lupa kalau sekarang baru jam enam pagi. “Kirain udah jam tujuh.”

“Hm…”

“Tapi kok kamu dah siap? Sengaja nungguin Kangmas Bimo ya?”

“Dih… Kepedean.” Reflek Anita menoyor kepala Bimo. Sial! Toyoran itu malah membuat Anita semakin mirip dengan Arimbi. Gaya mereka mirip hampir tanpa cela. “Aku tiap hari juga gini keles…”

“Sepagi ini?” Anita mengangguk mengiyakan. “Yaaaah… Kirain special for me.” Runtuk Bimo sambil menepak dahinya sendiri.

“Ehem…” Tiba tiba terdengar deheman dari arah pintu. Sontak Bimo menoleh ke asal suara dan kemudian langsung berdiri menangguk dan tersenyum. “Pagi Mbak…” Ucap Bimo menyapa Mbak Rini, Kakak Anita.

“Pagi juga.” Sahut Mbak Rini sambil mengeluarkan motor bebek-nya dari dalam rumah. “Tumben baru kelihatan lagi Bim?” Lanjutnya sambil memarkirkan motor itu di halaman.

“Hehehe…” Bimo merenges sambil sekilas melirik ke arah Anita. “Kemarin di blokir Mbak.”

“Di blokir apa di tapol?” Seloroh Mbak Rini sambil menggeloyor kembali masuk ke dalam rumah.

What?! Bimo merenges kecut dan perlahan menatap Anita dalam dalam. “Mbak Rini tau?” Anita mengangguk sambil tersenyum. “Tau juga gara garanya apa?” Anita kembali mengangguk mengiyakan. “Tau semuanya?” Anita lagi lagi masih mengangguk.

“Ibuk juga tau.” Ujar Anita kemudian.

Dapuk! Kalau begini caranya mau di taruh di mana wajah tampan Bimo. Mereka pasti mengecap Bimo sebagai cowok brengsek yang sengaja nembak Anita hanya sekedar untuk di jadikan selingkuhan. Kalau benar seperti itu, sepertinya jalan perjuangan bakal terjal berbatu.

“Ciyus?”

Anita kembali mengangguk sambil tersenyum. “Lagian… Kesel kesel ya udah aku ceritain aja ke semua kalau yang namanya Bimo itu cowok brengsek yang nembak aku cuma mo di jadiin selingkuhan.”

“Serius apa Nit? Semua gitu?”

“Iya… Serius. Nggak percaya tanya aja Mbak Rini.” Anita sekilas melirik jam tangan-nya dan kemudian beranjak berdiri. “Udah ah… Berangkat yuk.”

Dengan lemas Bimo perlahan berdiri dan menggeloyor ke arah motornya. Semangatnya yang sempat berkobar membara seketika padam. Ngalamat perjuangan bakal berat. Bukan berat untuk mendapatkan Anita, tapi berat untuk mengambil hati keluarganya. Njier!

Whuuuuum…

~~~oOo~~~
“Semangat bro! Cinta itu harus di perjuangkan harus berdarah darah karena cinta nggak ada yang hibah. Kalau keluarganya nggak setuju hamilin aja, gampang to…”

Di pikir pikir petuah koplak dari Revan itu ada benarnya juga. Tumben otak bocah itu selangkah lebih maju dari pada tangan-nya. Walau ekstrem dan nekat seperti biasa, tapi kalau terpaksa sepertinya cara itu patut di coba. Tapi itu nanti saja kalau benar benar terpaksa. Yang penting sekarang adalah mendapatkan Anita-nya dulu. Soal keluarganya itu urusan nanti.

Dengan percaya diri level kecamatan, sepulang sekolah Bimo langsung meluncur stand-by di seberang jalan depan gerbang sekolahan Anita. Ketampanan Bimo dan tongkrongan super keren-nya yang -sepertinya- hanya the one and only di kota itu membuat cewek cewek seisi sekolahan Anita langsung heboh sendiri sendiri.

“Eh… Itu kan si Bimo anak SMA 1 kan ya?” Bisik bisik sekumpulan cewek centil yang baru keluar dari sekolahan. Bimo yang fokus menatap satu persatu murid yang baru bubaran sekolah tidak menyadari dirinya menjadi pusat perhatian.

“Iya… Ganteng banget ya motornya.” Sahut teman-nya.

“Orang-nya juga ganteng maximal tau. Kalau aku jadi pacar-nya, sumpah aku langsung pasrah deh mo di apain juga. Di suruh ngangkang juga mau akuh.” Timpal yang lain-nya dan langsung di sambut tawa cekikikan teman teman-nya.

“Tapi mo ngapain ya dia kesini?”

Cewek cewek centil itu langsung heboh sendiri saat tiba tiba Bimo tersenyum sambil mengangkat sebelah tangan-nya. “Omigod! Dia nyenyumin aku gituh?” Celetuk salah satu dari mereka kepedean.

“Ke aku kali keknya.” Sahut teman-nya tak kalah kepedean.

“Hai…” Segerombolan cewek centil itu kompak menoleh ke arah suara di sampingnya. Satu persatu langsung memasang mimik melongo melihat Anita melambai sambil kemudian setengah berlari menyeberang jalan menghampiri Bimo. Menghampiri si cowok ganteng dengan tongkrongan super keren itu.

“Anita…?” Guman mereka serempak persis koor paduan suara sambil saling berpandangan keki.

“Udah lama?” Sapa Anita sesampainya di depan Bimo. Anita sama sekali tidak sadar kalau karena Bimo dia jadi pusat perhatian seisi sekolahan. Dan Anita juga tidak sadar kalau karena Bimo juga sekarang dia otomatis menjadi musuh bersama cewek cewek centil keganjenan di sekolahan-nya.

Kok Anita sih? Lebihnya apa coba? Sexyan juga aku. Nenen-nya juga montokan punya aku.

“Ah Enggak.” Sahut Bimo sambil kemudian menaiki dan menyalakan mesin motornya.

Whuuuuum…

Alunan suara mesin motor Bimo yang merdu otomatis memancing tatapan iri cowok cowok seisi sekolahan Anita. Tanpa bisa di larang, mereka langsung berfantasi seandainya. “Seandainya aku punya motor itu. Oh… Alangkah senangnya hatiku.”

Mimpi aja sono gaes!

Perlahan Anita memanjat naik ke boncengan motor Bimo. Untuk bisa nangkring di sana, rok abu-abu Anita terpaksa sedikit di singkapkan sampai memamerkan sepasang paha-nya yang mulus aduhai. “Duamput!” Umpatan mupeng serempak langsung terlafal di hati cowok cowok sesekolahan Anita.

Whuuuuum…

Saat berhenti di lampu merah, tiba tiba Bimo seperti merasakan Deja-Vu. Dulu ini pernah terjadi dan persis seperti ini. Berhenti di lampu merah dengan motor motor bebek berhenti di sekitarnya yang terlihat seperti kurcaci kecil dan murah murahan. Tepat di sampingnya berhenti Ninja 250 cc yang pengendaranya terlihat sombong tapi langsung tertekuk lesu begitu mendengar deru mesin motor Bimo.

Whuuuuum…

Bukan hanya itu, tatapan tatapan mereka juga sama seperti waktu itu. Tatapan mupeng ngiri pengen mengendarai motor Bimo dengan gadis secantik Arimbi yang nangkring di boncengannya. Posisi duduk Arimbi yang nungging habis membuat mereka hanya bisa ngiler sambil mengutuk nasib mereka yang tak seenjoy nasib Bimo.

Hoooey…! Ini Anita gaes. Anita… Bukan Arimbi…!

“Enak banget tu bocah, di sodok nenen kek gitu. Bolong-bolong deh itu punggung.” Mungkin jerit hati iri mereka juga masih sama saat melihat betapa enaknya punggung Bimo di gencet nenen Anita.

“Mirip kita dulu ya Mbok?” Bisik seorang bapak tua botak kepada istrinya yang juga persis mirip dengan waktu itu. “Romantis.”

“Iya Pakne.” Sahut sang Istri sambil mengeratkan pelukannya dan sedikit memundurkan bokongnya di ujung jok Astrea Impressa agar bisa sedikit nungging seperti Anita. Dan lagi lagi tingkah itu juga sama persis seperti waktu itu.

Dapuk…!

Begitu lampu merah berganti hijau, Bimo langsung membetot gas motornya. Tapi bedanya, Bimo melesat cepat kali ini bukan untuk pamer atau meninggalkan motor-motor murah muntah-muntah di belakangnya. Kali ini Bimo melesat cepat untuk lepas dari bayang bayang yang katanya Deja-Vu itu.

“Bim… Jangan ngebut apa Bim?! Takut ni…” Jerit Anita sambil semakin mengeratkan pelukan-nya. Tapi Bimo tidak perduli, dia terus memacu motornya seperti orang kesetanan. Tapi apes, seisi jalanan yang minggir teratur dan kompak menengok kearah-nya malah semakin membenamkan Bimo semakin dalam bayang bayang itu.

“Kamu kenapa sih? Bawa motornya udah kayak apaan aja.” Sungut Anita begitu Bimo menghentikan motor di halaman rumah-nya. “Kalau mo bosen hidup sendirian aja, nggak usah ngajak ajak aku.” Lanjutnya sambil meloncat turun dari boncengan motor Bimo.

Prosesor otak Bimo langsung bergerak cepat memikirkan alasan yang tepat. Jangan sampai ketahuan kalau dia sebenarnya ngebut demi lari dari ingatan akan Arimbi. “Tu…” Sahutnya sambil menunjuk paha Anita yang terekpos mulus. “Sayang kan kalau di sedekahin gratis ke orang orang.”

“Hehehe…” Anita merenges mengerti. “Perhatian banget.” Sambil kemudian membenahi rok abu-abunya yang tersingkap.

“Ya iyalah… Aku aja belum dapet masa…”

“Hm…”

“Hehehe…” Bimo merenges sambil kemudian turun dari motornya.

“Mo mampir apa langsung pulang?”

“Kalau mampir dulu boleh nggak?”

“Nggak boleh!” Ketus Anita sambil menggeloyor meninggalkan Bimo. “Tunggu situ, aku mo ganti baju dulu.” Ujarnya sesaat sebelum menghilang di balik pintu. Dengan senyum senang, Bimo kemudian melangkah ke arah balai bambu di teras rumah Anita.

Sementara itu di dalam kamarnya, Anita senyam senyum sendiri senang. Wajah cantik-nya perlahan mulai bersemu merona merah. Sumpah demi apa, rasa kesal yang setahun ini sempat berakar di hatinya seketika tercabut, bahkan dari pertama mereka bertemu di cafe dua hari yang lalu.

Selesai melepas seragam sekolahnya dan tinggal hanya mengenakan bra dan celana dalam senada motif polkadot, Anita sejenak mematut diri di depan cermin meja rias. Di amatinya dengan lekat sosok bayangan setengah telanjang dirinya di cermin. “Bimo beneran pedekate lagi gitu?” Guman Anita berbicara dengan bayangannya sendiri. “Ah… Gimana nanti ajalah.”

Puas mematut diri di depan kaca, Anita langsung membongkar isi lemari pakaian-nya. Daster santai setengah lutut tanpa lengan motif polkadot yang menjadi pilihan-nya kali ini. Sebentar Anita sedikit merapikan rambutanya dan kemudian keluar dari kamar-nya.

“Siang Ibuk.” Sapa Anita sambil mencium tangan Ibunya yang sedang sibuk di dapur.

“Siang… Itu di luar ada siapa?”

“Bimo.” Sahut Anita sambil mengambil gelas dan membuat secangkir kopi.

Bu Wartini -Ibunda Anita- menatap Anita heran. “Bimo? Bukankah Bimo itu yang dulu… Ah sudahlah. Mungkin mereka sekarang sudah baikan.” Batin beliau.

Selesai membuat secangkir kopi, Anita langsung keluar menemui Bimo yang menunggu di teras depan. “Sorry ya lama.” Ujar Anita sambil meletak-kan cangkir di meja kayu kecil yang berada di pojokan teras. “Eh… Di tanyain Ibuk tu.” Dan Anita kemudian menyusul duduk di samping Bimo.

Belum sempat Bimo bereaksi. “Eh Bimo… Kemana aja? Lama nggak pernah main ke sini lagi.” Bu Wartini sudah keburu nongol menyapanya.

Perlahan Bimo berdiri dan menghampiri Ibunda Anita itu. Seketika jantung Bimo dag dig dug di atas batas normal. Bimo gentar setengah mati menghadapi perempuan paruh baya itu. “Ada kok Bu… Cuma kemarin lagi sibuk aja.” Sahut Bimo sambil mencium tangan Ibunda Anita itu.

“Sibuk apa sibuk…” Bimo hanya bisa tersenyum kecut merespon pertanyaan Bu Wartini yang ambigu itu. “Ya udah silahkan, Ibuk mo ke dalam lagi, masih banyak kerjaan di dalam.”

“Iya Bu…”

Anita tersenyum melihat raut wajah Bimo yang seketika pucat. “Heh… Kok pucet gitu kenapa?” Selorohnya.

“Kamu beneran cerita kek gitu ke Ibukmu Nit?” Bimo perlahan kembali duduki tempatnya semula.

“Di bilang iya juga. Kenapa memangnya?”

“Berarti berat.” Guman Bimo sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tas sekolahnya. Secangkir kopi sebatang rokok dan di temani Anita yang cantik sepertinya bisa sedikit mengurangi kegentaran menghadapi Bu Wartini. Tapi Pak Karsiman? Mbak Rini? Mbak Ratih? Hadeeewh… Halang rintangnya banyak bingitz.

“Berat kenapa Bim?”

“Ah enggak…” Sambil menyalakan sebatang rokok, sekilas Bimo melirik ke arah Anita. “Cuman berat aja klo godaan-nya putih polkadot kek gitu.” Ujarnya santai sambil kemudian meniupkan asap rokoknya.

“What?!” Jerit Anita sambil reflek membenahi rok-nya yang sedikit tersingkap. Bukan cuma sedikit tersingkap, malah bisa di bilang tersingkap total karena celana dalam polkadot-nya sampai mengintip keluar. “Dasar mesum.” Anita bersungut kesal sambil menoyor Bimo brutal.

“Dih…” Bimo berusaha mengelak. “Orang di suguhin gratis kok. Mubadzir kali klo di anggurin.”

“Pokoknya Bimo mes…”

Sigap Bimo langsung membekap mulut Anita. Gawat kalau sampai kedengaran Ibu-nya di dalam. Bisa bisa perjuangan-nya bakal semakin berat karena predikatnya bertambah semakin jelek lagi, cowok mesum. “Sssst… Jangan kenceng kenceng napa sih.”

Sebentar bersama Anita, Bimo kembali menemukan senyum. Bunga bunga semangat-nya kembali terkembang. Fix! Walau berat, Bimo sudah meyakinkah hati untuk berjuang dan berusaha. Tak ada kata mundur seperti kata Revan. Pantang mati sebelum menang, pantang pulang sebelum menghamili anak orang.

Huaaaaaahahaha…

oOo
Sementara itu di kamarnya, entah kenapa Arimbi tiba tiba merasa dadanya sesak. Bayangan Bimo satu persatu mulai berseliweran di pelupuk matanya. “Bimo…” Perlahan Arimbi menyapukan pandangannya kesekeliling kamar. Di setiap sudut kamar ini ada kenangan Bimo. Bahkan bau Bimo masih tertinggal sampai sekarang.

Perlahan Arimbi melangkah ke arah meja belajar dan mengambil sebuah albun bersampul ungu di dalam laci.* “Bimo…” Batin Arimbi kembali merapalkan nama itu. Lembar demi lembar di buka, kenangan demi kenangan kembali teringat dan tanpa sadar bulir air mata menetes dari sudut matanya.

Melihat foto dirinya dan Bimo dengan background pohon jambu dersono di belakang-nya, angan Arimbi seketika melayang ke masa 10 tahun yang silam. Masa di mana dia dan Bimo paling demen bermain di bawah pohon itu. Bahkan mereka mengklaim pohon itu adalah markas besar mereka.

“Bim… Kita main rumah rumahan yuk.” Manja Arimbi sambil duduk ngedeprok di tanah. Di depan-nya mainan masak masakan terhampar berserakan.

“Ogah ah.” Sahut Bimo sambil terus asik mengguratkan pisau butut di batang pohon jambu dersono. “Bosen main masak masakan mulu.”

“Ih…” Sambil bersungut kesal Arimbi kemudian berdiri dan menghampiri Bimo. “Lha terus mau main apa dong?” Bimo tidak menyahut. Dia masih terus asik mengguratkan pisau butut-nya di batang pohon jambu dersono itu. “Dih gak jawab… Lagi sibuk ngapain sih?”

Sebentar Bimo menoleh ke arah Arimbi dan tersenyum. “Bentar… Kamu tutup mata dulu ya.”

“Apaan sih?”

“Udaaah… Pokoknya tutup mata aja dulu.”

Walau terpaksa Arimbi akhirnya menuruti Bimo, menutup matanya. “Udah belum?” Tanya Arimbi tidak sabaran.

“Bentar lagi.”

“Udah belum?”

“Bentar ih.”

Arimbi semakin penasaran dan tidak sabar. “Udah belum sih? Lama Amat.”

“Udah.” Perlahan Arimbi membuka mata. “Taraaaa…” Dengan bangga Bimo menunjuk-kan apa yang di buatnya di batang pohon jambu dersono itu. Sebuah guratan nama terukir di sana.

Bimo – Arimbi

Arimbi mengerutkan alis belum mengerti apa maksud tulisan itu. “Terus buat apa itu?” Tanya Arimbi dengan polosnya.

“Ini tandanya kalau pohon ini punya kita. Pohon ini jadi markas kita.”

“Ah nggak mutu.” Arimbi melengos kesal. Menurutnya tidak ada permainan yang lebih mengasik-kan dari pada bermain masak masakan. “Tapi iya… Ini markas kita dan hanya untuk kita.” Tukas Arimbi kemudian.

Tok tok tok tok…

Ketukan di pintu kamarnya seketika membuyarkan ingatan kenangan Arimbi. “Rim… Ada Aditya tu.” Ujar Bu Hana dari luar.

Buru buru Arimbi menutup dan kembali menyimpan album foto itu di lanci. Sambil menyeka air matanya, sebentar Arimbi berkaca sedikit merapikan penampilan-nya. “Iya Buk… Suruh nunggu bentar ya.” Sahut Arimbi.

Sejenak Arimbi terpejam sambil meraba dadanya. “Sakit.” Rasa itu masih terasa. Setelah menghela nafas dalam menenangkan batin, Arimbi perlahan melangkah keluar dari kamarnya dan menemui Aditya yang sudah menunggu di ruang tamu. “Hai Dit…” Sapanya sambil duduk di samping Aditya.

“Lagi ngapain?” Aditya menatap curiga melihat mata Arimbi yang sedikit sembab. “Baru nangis?”

“Baru ser mo tidur tadi.” Sahut Arimbi beralasan. Tapi Aditya tidak bodoh. Mata sembab itu jelas sembab habis menangis bukan sembab kebangun tidur. Arimbi menangis karena apa, Aditya tidak berani menyanyakan itu. Dia hanya berharap, mungkin nanti Arimbi akan bercerita dengan sendirinya. Semoga saja.

Bersemangat!

Tags: #cerita dewasa #cerita dewasa 2016 #cerita mesum #cerita ML #cerita ngentot #cerita porno #cerita seks #cerita sex #terbaru 2016 #terbaru maret 2016

Tinggalkan pesan "Cerita Ngentot – Merasakan Dan Menikmati Digangbang"

Penulis: 
    author