Cerita Ngentot – Aku Sebagai Pemuas Nafsu Majikan Paruh Baya Ganteng

9241 views

Cerita Ngentot –  Aku Sebagai Pemuas Nafsu Majikan Paruh Baya Ganteng – Sebuah cerita dewasa yang sangat menggairahkan yaitu saat berhubungan sex dengan wanita setengah baya yang bisa membuat kita merasa lebih bergairah dan sangat bernafsu. Tulisan dibawah ini menceritakan hubungan sex antara seorang supir dengan majikannya yang cantik dan genit serta haus akan belaian seorang lelaki, mari kita simak cerita di bawah ini.

Cerita Ngentot Aku Sebagai Pemuas Nafsu Majikan Paruh Baya GantengCerita Ngentot –  Aku Sebagai Pemuas Nafsu Majikan Paruh Baya Ganteng  – Aku benar-benar lemas mendengar keputusan pihak manajemen perusahaan. Bulan lalu perusahaan sudah menyampaikan rencananya untuk mengurangi sejumlah karyawan, termasuk pengemudi. Hari ini aku termasuk yang kena di PHK. Istriku tak banyak bicara ketika kutunjukan surat pemutusan hubungan kerja yang diberikan oleh perusahaan. Dia hanya memandangi bayi kami yang baru saja berusia tiga bulan. Terbayang di pikiran kami bagaimana cara menghidupi bayi kami ini tanpa adanya pekerjaan. Uang pesangon yang diberikan oleh perusahaan tak seberapa jumlahnya pasti tak akan bertahan lama.

Cerita Ngentot –  Aku Sebagai Pemuas Nafsu Majikan Paruh Baya Ganteng  – Aku pun mulai berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, selama seminggu aku menyibukan diri dengan iklan lowongan pekerjaan di koran dan mendatangai berbagai macam perusahaan untuk mencari kerja. Hasilnya nihil dan aku pun merasa dimana lagi aku harus melamar pekerjaan. Untungnya sorenya istriku membawa kabar gembira. Majikan pak Mady butuh supir  baru segera, dikarenakan pak Mady, lelaki tua yang tinggal tidak jauh dari rumah kami kena stroke. Pak Mady pun harus butuh banyak istirahat total dan berhenti menyupir untuk majikannya. Istriku mengangsurkan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat majikan Pak Sulaiman.Besok paginya aku langsung meluncur ke rumah Pak Ando, mantan majikan Pak Mady. Rumah Pak Ando luar biasa besar dan mewah. Pembantu Pak Ando membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan aku menunggu di ruang tamu. Kemudian Pak Ando menemuiku. dia seorang lelaki Cina tua, bos sebuah perusahaan Bahan baku kampas rem mobil di Jakarta.

“Kamu tetangga Pak Mady?” tanya Pak Ando.
“Benar, Pak Ando. Nama saya Albert”
“Kamu kelihatan muda sekali. Berapa umurmu?” tanya Pak Ando.
“Umur saya 25 tahun, Pak”
“Sudah lama jadi supir?”
“Saya sudah 3 tahun menjadi supir di perusahaan lama saya Pak.”
“Kenapa kamu keluar dari perusahaan lama kamu?” tanya Pak Ando
“Perusahaan sedang mengalami penurunan dan mengurangi sejumlah karyawan, Saya pun di PHK”
“Ooh oke, Albert. Langsung saja, kamu saya terima bekerja di saya. Kamu akan menjadi supir pribadi istri saya. Istri saya adalah Area Manager perusahaan. Dia harus banyak berkeliling ke cabang-cabang perusahaan di kota-kota lain di Jawa dan di Indonesia,” jelas Pak Ando.” Gaji tiga bulan pertama Rp 2.2 juta. Setuju?”
“Setuju, Pak”
“Kamu mulai kerja hari ini” kata Pak Ando

Seminggu sudah aku menjadi supir Nyonya Ando. Dari karyawan kantor, aku tahu nama Nyonya Ando adalah Sherly, sebuah nama yang elok. Di kantor, para karyawan demikian segan dan hormat padanya, dan tak pernah ada yang bicara buruk tentang perempuan luar biasa ini. Di mobil, ketika tak sedang menelepon, Bu sherly tak banyak bicara. Seperti pagi ini dalam perjalanan ke Bandung, menuju ke kantor cabang. Dia hanya bicara beberapa patah kata bilamana aku terlalu cepat dan terlalu pelan mengemudi.

Cerita Ngentot –  Aku Sebagai Pemuas Nafsu Majikan Paruh Baya Ganteng  – Kami sampai di Bandung sebelum tengah hari. Bu Sherly langsung memimpin rapat para karyawan. Aku sendiri langsung menuju warung makan di depan kantor. Setelah 3 jam menunggu, perutku mulas. Pasti karena saya kebanyakan makan sambal pecel lele. Aku mencari WC. Kata Karyawan kantor, WC supir ada di bagian belakang. Aku segera  menyelinap kebelakang mencari WC yang dimaksud, melewati lorong-lorong sempit  tumpukan stok barang perusahaan.Setelah selesai dengan urusanku di kamar kecil, aku bermaksud kembali ke depan melewati lorong-lorong sempit yang tadi aku lewati. Dinding salah satu lorong itu ternyata adalah Kaca salah satu ruang kantor. Tirai dinding kaca itu terbuka sedikit, dan tak sengaja dari celah kecil itu aku melihat sebuah adegan seru, yang sudah pasti bukan kegiatan kantor pada umumnya. Seorang lelaki muda sedang asik memeluk, mencium dan dengan lidahnya menelusuri dada perempuan yang aku kenal betul, yakni Bu Sherly. di atas sebuah sofa diruang kantor kepala pemasaran cabang Bandung. Bagian atas blus Bu Sherly terbuka lebar, menampakkan dadanya yang penuh di balik BH yang terurai sebelah. Bu Sherly tampak begitu menikmati itu. kepalanya terdongak dengan mata terpejam bibirnya terbuka. Kalau tak ada dinding kaca ini, aku pasti bisa mendengar desah desah nikmatnya. Aku terpaku menikmati adegan kecil di celah sempit itu. Tak sengaja lututku menyentuh tumpukan stok barang. setumpuk kampas rem yang sudah terbentuk terjatuh dan menimbulkan suara yang pasti terdengar dari dalam ruangan. Kulihat aksi Bu Sherly dan lelaki itu terhenti seketika. Aku lari menjauh, tak perlu repot-repot menata ulang barang yang jatuh.

Satu jam kemudian Bu Sherly keluar dari kantor dan minta balik ke Jakarta. Aku tak berani banyak bicara dalam mobil. Bu sherly juga tidak, tapi dia kelihatannya santai sekali. Aku bertanya tanya dalam hati apakah dia tahu aku mengintipnya. Sekitar selang beberapa menit kemudian Bu sherly mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Albert, berapa umurmu?” tanya Bu Sherly tiba-tiba.
“25 tahun, Bu”
“Sudah menikah?”
“Sudah Bu, saya punya bayi usia 3 bulan”
Tiba-tiba Bu Sherly melemparkan satu amplop tebal ke kursi desebelahku. sejumlah lembaran seratus ribuan tampak dari ujung amplop yang terbuka.
“Itu untuk kamu dan anakmu. 10 juta rupiah!” kata Bu Sherly.
“Untuk saya?” tanyaku heran.
“Iyah, untuk kamu,” tegas Bu Sherly.
“Wah, untuk apa ini ya bu?” tanyaku tak mengerti. Aku melihatnya dari kaca spion. Bisa kulihat Bu Sherly tersenyum dari kaca itu.
“Ini uang tutup mulut. Aku tahu kamu mengintip aku sedang bermesraan dengan Dody tadi.
tidak boleh ada yang tahu ini. Kalau Pak Ando tahu, itu berarty dari kamu. Dan kau pasti akan kehilangan pekerjaan. Kunci mulutmu dengan uang 10 juta itu, dan kamu tetap bisa bekerja.
Aku terdiam sejenak. Kuberanikan bicara,
“Ibu tidak perlu memberi saya uang itu. Saya akan tutup mulut. Ibu bisa pegang kata-kata saya”
“Tidak! ambil saja! dan jangan bicara lagi!”
Itulah kalimat terakhir Ibu Sherly. Selebihnya, dia tak bicara lagi. Besoknya aku menyetorkan uang ke tabunganku tanpa sepengetahuan Istriku. Dan selanjutnya, aku menutup mulut rapat-rapat. Hari hari berjalan seperti biasa, tak banyak yang berubah. Yang sedikit berubah adalah suasana di dalam mobil. Belakangan ini Ibu Sherly sering sekali bergeser tempat duduk. Kalau biasanya dia duduk tepat di belakangku, kali ini dia lebih sering bergeser ke kiri. Dia sering kali mencuri pandang ke arahku dari duduknya di mobil. Entah kenapa dia begitu. Yang jelas aku tak pernah berani menatapnya dari balik spion.

Pagi ini aku mengantar Bu Sherly ke bandara Soekarno Hatta. dia akan bertugas memeriksa cabang Bali selama seminggu. Jadi, selama seminggu ini aku akan stand-by dikantor Pak Ando sebagai supir cadangan. tapi selepas siang sebuah sms masuk ke HP-ku. Itu dari Bu Sherly. Bunyinya, “Supir cabang Bali sakit. Kamu ke Bali siang ini. Sudah saya kirim uang buat beli tiket pesawat. Kamu langsung ke kantor Cabang Denpasar”.

Segera aku mendapatkan uang tiket dan alamat kantor Cabang Denpasar dari kantor Jakarta. Senang juga rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya. 4 jam kemudian aku sudah berada di Kantor Cabang Denpasar.
“Saya lebih nyaman kalau kamu yang nyupir, “kata Bu Sherly begitu duduk di kursi belakang di mobil Cabang Denpasar. “Kamu banyak tahu jalan-jalan Denpasar, kan?” tanya Bu Sherly.
“Iya, Bu. Saya menempuh SMA saya disini,” kataku
“Baiklah, langsung ke Hotel santika Kuta Beach,” perntah Bu Sherly

Setelah check-in di hotel, aku sempat membawakan barang ke kamar Bu Sherly, sebuah kamar cottage tepat di pinggir pantai Kuta.
“Ini uang buat cari hotel kecil di sekitar sini. Mobil kamu bawa. HP-kamu mesti stand-by. Kalau saya perlu keluar, saya akan telepon,” kata bu Sherly
“Baik, Bu!”

Aku mendapat kan Hotel kecil tak jauh dari Santika Kuta Beach. Jam tujuh malam kurang sedikit, sehabis mandi, dan mengenakan t-shirt, teleponku bergetar. Bu Sherly kirim SMS.
“Charger saya ketinggalan di mobil. Bisa kamu antar ke Hotel?” demikian bunyi SMS itu. Aku segera beranjak. Ketika sampai di hotel, SMS Bu Sherly datang lagi, “Kamu sudah sampai hotel?
Bisa langsung antar charger ke kamar saya?”

Dengan charger di tangan, aku bergerak ke bagian belakang Hotel dan mencari cottage Bu Sherly. Di malam hari suasana cottage itu syahdu benar, dengan tanaman rindang, lampu redup di seputar cottage dan deburan ombak laut tak jauh dari cottage. Aku mengetuk pintu cottage.
“Masuk saja, tidak dikunci!”terdengar suara Bu Sherly. Aku tak berani langsung masuk. Ragu aku berdiri di depan pintu.
“Masuk, Albert” suara Bu Sherly agak meninggi, setengah memerintah.

Aku mendorong pintu, Bu Sherly berdiri di dekat jendela yang menghadap ke pantai dengan segelas soft-drink dengan rambut terurai dan senyum manis. Berdebar aku melihatnya, tank-top merah ketat yang dikenakan membiarkan lekuk-lekuk dadanya terlihat jelas. Belahan dada yang indah itupun tak terseumbunyikan. Aku menatap kakinya yang jenjang, Short putih yang teramat pendek itu menyajikan sepasang paha mulus yang kencang.
“Ini chargernya, Bu Sherly, saya taruh sini,ya!” kataku gugup. Bu Sherly berjalan menghampiriku. Iya ampun! cara berjalan itu, demikian menggetarkan dada. Seksi banget orang satu ini.
“Kamu kelihatan gugup,” kata Bu Sherly tenang, menatapku dengan pandangan penuh, tak pernah dia memandangku sedemikian rupa sebelumnya.
“Lihat sekeliling. Sebuah kamar yang nyaman dengan lampu redup, dan suara debur ombak. sempurna sekali, bukan?” Kata Bu Sherly dalam kerlingnya. Aroma parfum mahal itu menyergap hidungku. Aku tak tahu Bu Sherly bicara apa, tapi aku menjawabnya.
“Ya, benar. Sempurna,” kataku. Aku mundur beberapa langkah. Bu Sherly makin dekat ke arahku.
” Apa yang kamu pikirkan sekarang?” tanya Bu Sherly. Wajahnya tak jauh dari wajahku.
“Saya…eh…saya, harus segera balik. Saya tidak ingin mengganggu kesempurnaan suasana ini” kataku.
“Begitu?” kata Bu Sherly pelan, meletakan gelas di meja yang ada di sebelahnya. ” Kalau begitu, balikkan badan dan tutup pintu itu,” katanya kemudian, Aku menuruti perintahnya. Aku membalikan badan, dan menutup pintu.
“Tidak begitu, Albert. Tutup dari dalam, bukan dari luar!” ujarnya Bu Sherly.
“Aku terkejut.”Dari dalam?maksud Ibu?””
“Iya, dari dalam. Dan kau tetap disini. Kita cuman berdua di kamar yang romantis ini. Tidak bisakah kau lihat ranjang itu? tidak kah kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini? tidak bisakah kau lihat betapa aku menginginkanmu?”

Aku diam terpaku. Tapi ada benda yang mulai terasa mekar di selangkanganku. Bu Sherly mendekatiku dan mengalungkan kedua tangannya ke leherku. “Panggil saja aku Sherly saja. Bawa aku ke ranjang itu, aku ingin kamu cumbui aku. bercintahlah denganku. Aku pingin sekali!” Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata. Bibir Sherly  telah mendarat di bibirku.  Dilumatnya aku dengan rakus dan beringas. Entah kenapa aku tak lagi ragu. Aku pun membalas lumatan bibir itu dengan tak kalah beringas. Sungguh manis dan segar bibir itu. Sherly segera melepas kaosku dan melepas tank-topnya sendiri, memberikan dada indah nya telanjang. Aku segera menyergap dada indah itu. Kukulum kan dan kuhisap habis-habisan puting susu Sherly. Aku yakin itu yang dia suka dan dia mau sekarang, dan aku benar. Dia menggerang dan mendesah dan membiarkan aku mengeksplorasi dada dan lehernya dengan bibir dan lidahku. Kukulum lembut puting merah jambu itu dan kuremas-remas dengan ritme yang lembut pula. Tubuh Sherly bergetar hebat, dengan ciuman bertubi-tubi dan dorongan dadanya pula, dia menggerakan aku ke arah ranjang dan menindihku dengan gencar, masih dengan ciumannya yang makin beringas.

“Susuku, aku mau kau hisap putingku lagi, telusuri sekujur dadaku, dan buat aku nikmat dan melayang, Albert!”
“Kau akan dapatkan yang kamu mau, Sherly” kataku tersenggal.

Kuberi Sherly jilatan-jilatan rakus di puting dan seputaran susunya. Dia membalasnya dengan gerakan yang sangat terlatih dan terampil. Dibalasnya aku dengan menghisap dan menggigit kecil putingku, dan debur ombak pantai Kuta seperti mendadak membimbing Sherly untuk memintaku melepaskan celana pendek yang dikenakan itu, dan dia tak sabar membantu aku melepaskan celana jeansku.

“Lepas celanaku, Albert. Lepas dan beri aku kejantananmu,”Sherly mendesah ketika mulai kuraih celana itu untuk kulorotkan. Tempik indah dan manis perempuan Cina itu menyembul dengan kerumunan rambut halus yang menyemut di sekitarnya.
“Kamu mau aku menggerayangi ini dengan lidahku?” tanyaku.
“Itu yang aku mau. Do it!” kata Sherly

Dia membantu dirinya sendiri terlentang dan meraih kepalaku. kubenamkan wajahku di tempik Sherly dan kumainkan lidahku, merangsek sedalam mungkin ke seantero vagina yang basah dan lapar itu. Sherly merintih, mengerang, mendesah dan mengaduh nimat. “Ohhhh!  ooouhhhh! ouuuhhh, Albert! That’s good. Terussss. Terusss. Ouhhh!” Sherly terus mengerang di antara debur ombak pantai. Sejenak kemudian, dia mengangkat kepala dan meraih penisku. “Sekarang kau harus merasakan balasanku,” sloroh Sherly, dia menelan bulat-bulat penisku dan mengulumnya penuh nikmat. Dia pun menarik penisku maju mundur mulai dari kecepatan rendah, sedang dan kecepatan tinggi dengan jepitan mulutnya. Aku terengah-engah dibuatnya. Sungguh ahli perempuan ini memberikan kenikmatan pada penisku. Benar-benar mabuk aku dibuatnya. Tak sabar lagi aku, libidoku sudah naik ke ubun-ubun. Aku menindihinya, menyerang susunya sekali lagi dan membuat Sherly menggelinjang liar di tempat tidur itu. Sherly lebih tak sabar lagi. dia membetot penisku dan membantuku mencari tempik basahnya.

“Senangkan aku, bahagiakan aku, Albert. Aku mau kamu sejak pertama aku melihat kamu”
“Kamu terlalu banyak meminta, Sherli” kataku.

Kubenamkan penisku ke dalam vaginanya yang basah menantang. Kupompa dengan penuh kelembutan dengan gerakan yang kusesuaikan dengan debar nafas Sherly. Kubiarkan penisku mencari titik-titik nikmat vagina Cina seksi ini. Kuberi dia bonus gigitan-gigitan kecil diputingnya dan sekujur susunya. ini membuat Sherly senang bukan main. Tak bisa kujelaskan rintihan desahan dan erangan Sherly.

Aku dan Sherly bercinta semalam suntuk. Sherly hanya memberiku istirahat sejenak sebelum dia mulai menyerang aku lagi. Dia punya banyak teknik permainan yang membuatku terperangah. Dan dia selalu meminta, meminta dan meminta. Ini membuat aku harus mengimbanginnya terus, berapa kalipun dia memintanya.

Kami berada di Bali seminggu penuh. Sherly pintar bikin alasan untuk tidak perlu datang ke kantor Cabang. Dia hanya mau aku mencumbunya terus dan terus tiada habis. pada malam terakhir sebelum kami pulang ke Jakarta. Aku dan sherly bercinta di dalam sleeping-bag selepas tengah malam di pantai yang sunyi.

Begitu pulang ke Jakarta, Sherly terus minta aku memuaskannya dikamar rumahnya ketika Pak Ando dan seisi rumah sedang keluar, dan dimana saja. Kami pergi ke hotel di Malang, Jogja, Madiun, Bandung bahkan Singapura. Sering pula Sherly minta aku mencumbunya di dalam mobil dimana saja dia menjadi horny. Aku tak tahu kapan ini akan berhenti. Sepertinya Sherly tak akan pernah ingin untuk mengakhiti ini semua.

Tags: #cerita dewasa #cerita mesum #cerita ngentot #cerita sex #cerita tante girang #terbaru 2017

Tinggalkan pesan "Cerita Ngentot – Aku Sebagai Pemuas Nafsu Majikan Paruh Baya Ganteng"

Penulis: 
    author